Nah 5 Tahun Diterjang Bising dan Debu, Akhirnya MRT Jadi Juga

Pembangunan infrastruktur pastinya memerlukan pengorbanan, terlebih untuk warga di dekat tempat project itu. Kerelaan hati diperlukan untuk kemaslahatan umum yang semakin besar.

Ambillah contoh, pelaksanaan mass rapid transit (MRT) Jakarta. Infrastruktur angkutan massal itu direncanakan beroperasi pada 2019. Satu keinginan baru untuk mengurai benang kusut kemacetan Ibu Kota.

Untuk menjangkau kesana, akhirnya tidak gampang. Keluar semua dinamika dalam pelaksanaannya, dari mulai resistensi warga, kendala pembebasan tempat, serta beda sebagainya. Semua harus dilewati dengan satu maksud, kebanggaan kalau MRT pertama akan terwujud di Indonesia.

Baca juga: Harga Helm INK – Tiket Kereta Api

Bila kita menengok ke negara tetangga, umpamanya Singapura, yang sudah menjalankan MRT lebih dari dua dekade, tantangan sama bermunculan waktu konstruksi berjalan.

Tetapi, lihatlah bagaimana sekarang ini warga Singapura bisa menuai akhirnya. MRT jadi tulang punggung mobilitas warga negara pulau itu.

Terbaru, Singapura menjalankan satu jalur baru yaitu Downtown Line 3 pada Sabtu (21/10/2017) kemarin.

Jalur itu didesain selama 21 km. serta terbagi dalam 16 stasiun dari Fort Canning sampai Expo. Rutenya melewati beberapa lokasi yang sampai kini belum juga terlayani MRT, seperti Geylang Bahru, Kaki Bukit, serta Bedok Reservoir.

Saat sistem pembangunan Downtown Line 3 itu, memprotes warga jadi hal wajar untuk otoritas setempat. Bagaimana tidak, jalur itu mempunyai akses yang dekat dengan beberapa permukiman masyarakat, mungkin saja cuma berjarak selemparan batu.

Pembangunan itu seakan jadi mimpi jelek berkelanjutan untuk warga terdampak. Sebut umpamanya, Eric Tan serta keluarganya.

Baca juga: Harga Semen – Harga Cat Tembok

Pekerjaan Downtown Line 3 itu, tutur Eric, berjalan sampai lewat larut malam. Lewat hari tanpa ada tidur sekalipun seringkali dihadapi Eric serta keluarganya. Bila mujur, ia masih tetap dapat terlelap, meskipun dengan sekian kali tersadar karena nada bising.

Terganggu juga akan hal itu, ia berinisiatif menghubungi pihak berkaitan yang dirasanya bisa melakukan perbaikan kondisi. Dari mulai Tubuh Lingkungan Nasional yang mengawasi polusi nada, Otoritas Transportasi Darat (LTA) yang bertanggungjawab atas project Downtown Line 3, sampai pihak kepolisian.

Meskipun Eric mengerti kalau pembangunan MRT itu untuk kebaikan orang-orang, namun kebisingan serta masalah yang diakibatkan tetaplah saja membuatnya kesal.
Lalu, apa jawaban pihak berkaitan pada yang dirasakan Eric?

” Mereka (otoritas berwenang) memohon untuk bersabar karna kami akan rasakan faedahnya satu waktu kelak. Mereka menyebutkan kalau pekerjaan itu tetaplah berlanjut apapun yang berlangsung, ” papar Eric seperti ditulis Channel News Asia.

Meskipun demikian, saat Eric memajukan yang dirasakan, nada konstruksi pernah mereda namun cuma sekian hari.

Pertolongan parlemen

Sempat satu saat, Eric demikian berang dengan suaru guncangan yang berulang pada jam 03. 00 sampai 04. 00 subuh. Ia pada akhirnya ambil video serta kirimnya ke LTA.

Jadi karena kurang tidur, lama kelamaan ia terasa susah berkonsentrasi pada aktivitas setiap harinya, termasuk juga mengemudi.

” Pihak kontraktor tawarkan penutupan jendela dengan kayu untuk menghambat kebisingan. Tetapi, siapa yang ingin tinggal tanpa ada ventilasi sepanjang lima th.? ” cetusnya.

Cerita Eric itu hanya satu dari demikian cerita yang ikut dihadapi warga yang lain waktu Downtown Line 3 dibuat.
Chua Jin Shun, warga yang tinggal di dekat stasiun Bedok North, menyebutkan, kebisingan buat ia harus berteriak untuk bicara dengan anggota keluarga dalam tempat tinggal.

” Saya dapat mendengar nada gaduh disini, terbentur disana, saya benar-benar tidak tahan, ” katanya.

Pengalaman beda disibakkan Lee Siew Kit, warga di dekat stasiun MRT Bedok Reservoir. Lee, seseorang profesional tehnologi info berumur 50 th., menggalang kemampuan dengan warga setempat untuk protes pembangunan MRT.

Bahkan juga, ia serta warga setempat hingga memohon pertolongan dari anggota parlemen Low Thia Khiang untuk menangani problem kebisingan. Selanjutnya, Low bersedia memfasilitasi warga untuk berjumpa dengan LTA.

” Kami memohon keterangan LTA supaya tahu jadwal pelaksanaan saat malam hari. Begitu, kami siap mengorbankan tidur kami, ” papar Lee.

Keinginan bersama

Sesudah melakukan pengorbanan besar dalam satu tahun lebih paling akhir, saat ini Lee, Chua, serta warga yang lain pantas bersenang hati.

MRT Downtown Line 3 resmi beroperasi 21 Oktober lantas sekalian akhiri periode penuh “kesengsaraan” untuk mereka.

Menurut Chua, pengorbanannya terbalas dengan mempunyai akses angkutan massal demikian dekat. Hal sama ikut dirasa Lee.
Seseorang siswa bernama Nayli Jasnir saat ini dapat juga pergi sekolah dengan girang. Hadirnya Downtown Line 3 memotong saat perjalanannya menuju sekolah dari 90 menit jadi cuma sekitaran 30 menit saja.

” Saya semangat! Siapa yang akan tidak suka? ” katanya ketertarikan.